KABUPATEN GORONTALO – Sebuah unggahan dari akun media sosial Gorontalo Karlota yang cukup viral di wilayah Gorontalo memicu perhatian publik setelah memposting video yang menampilkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMP Negeri 1 Mootilango. Dalam unggahan tersebut, menu MBG yang diterima siswa digambarkan terlihat minim dan memprihatinkan sehingga memunculkan berbagai komentar dari masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, pihak SPPG Paris Mootilango yang berada di bawah Yayasan Kumala Vaza Group memberikan klarifikasi terkait video yang beredar. Mereka menyatakan bahwa video yang diunggah di akun tersebut tidak menggambarkan kondisi sebenarnya dari menu MBG yang dibagikan kepada siswa pada hari itu.
Menurut pihak SPPG, menu yang ditampilkan dalam video tersebut tidak lengkap dan berbeda dengan menu yang sebenarnya didistribusikan kepada siswa. Dalam menu resmi yang disiapkan oleh dapur SPPG Paris Mootilango, terdapat beberapa komponen makanan seperti telur, kacang goreng, buah, serta roti sebagai bagian dari paket menu. Namun pada video yang beredar, roti yang seharusnya menjadi bagian dari menu tidak terlihat, sehingga menimbulkan kesan seolah-olah paket makanan yang diberikan sangat terbatas.
Kepala SPPG Paris Mootilango, Zulkifli M Barajanji, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan konfirmasi langsung kepada PIC sekolah di SMP Negeri 1 Mootilango untuk menelusuri kejadian tersebut.
Dari hasil konfirmasi tersebut diketahui bahwa setelah pulang sekolah, seorang siswa sempat dipanggil oleh seseorang yang berinisial GD. Orang tersebut kemudian menanyakan menu MBG yang diterima siswa tersebut. Siswa itu lalu memperlihatkan makanan yang masih tersisa di tangannya, yang kemudian direkam dalam sebuah video.
“Setelah kami telusuri, ternyata sebelumnya roti yang ada dalam paket MBG tersebut sudah diberikan oleh siswa itu kepada teman-temannya. Karena itu saat direkam dalam video, roti sudah tidak ada lagi di dalam paket makanan yang terlihat,” jelas Zulkifli.
Pihak SPPG menilai kondisi tersebut membuat video yang
beredar di media sosial menjadi tidak menggambarkan menu MBG secara utuh. Hal
ini kemudian memunculkan persepsi publik bahwa menu yang diberikan kepada siswa
sangat minim, padahal menu sebenarnya telah disusun sesuai standar gizi yang
ditetapkan.
SPPG Paris Mootilango berharap masyarakat dapat melihat informasi secara lebih utuh dan tidak langsung menyimpulkan dari potongan video yang beredar di media sosial. Mereka juga menegaskan bahwa program MBG tetap dilaksanakan dengan memperhatikan komposisi gizi serta standar menu yang telah ditetapkan.
Sementara itu, pihak SPPG juga menyampaikan bahwa mereka
terus melakukan evaluasi dan koordinasi dengan sekolah agar distribusi makanan
serta informasi kepada masyarakat dapat berjalan lebih baik, sehingga tidak
menimbulkan kesalahpahaman di kemudian hari.







Komentar
Tuliskan Komentar Anda!