Provinsi Gorontalo – Badan Gizi Nasional (BGN) melalui Koordinator Regional Provinsi Gorontalo menegaskan pentingnya pengelolaan sanitasi lingkungan, khususnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan podcast “Bincang Sehat” yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo dan disiarkan secara langsung melalui kanal media sosial resmi, Selasa (7/4/2026).
Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Koordinator Regional BGN Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, bersama Dendels Bagit selaku Pengelola Layanan Kesehatan Lingkungan di Dinas Kesehatan Provinsi Gorontalo (bidang pengelolaan limbah dan kesehatan lingkungan).
Dalam pemaparannya, Zulkifli menegaskan bahwa aspek sanitasi menjadi bagian penting dalam operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), mengingat proses produksi makanan dalam program MBG dilakukan dalam skala besar dan menghasilkan limbah yang harus dikelola dengan baik.
“Program MBG tidak hanya berbicara tentang penyediaan makanan bergizi, tetapi juga memastikan bahwa proses produksi dilakukan secara higienis dan tidak berdampak terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa langkah penyesuaian operasional yang dilakukan pada sejumlah SPPG merupakan bagian dari evaluasi untuk memastikan seluruh mitra memenuhi standar yang telah ditetapkan, khususnya dalam aspek sanitasi dan pengelolaan limbah.
IPAL Harus Lengkap, Bukan Sekadar Penampungan
Sementara itu, Dendels Bagit
memberikan penjelasan teknis secara lebih mendalam terkait sistem pengolahan
air limbah yang sesuai standar.
“Banyak yang hanya membuat bak
penampungan atau penyaringan awal, bahkan langsung membuang limbah ke saluran.
Itu belum bisa disebut IPAL,” tegasnya.
Pada tahap pretreatment, dilakukan proses awal seperti penyaringan limbah dan pemisahan lemak menggunakan grease trap. Namun, ia menilai bahwa di lapangan masih banyak grease trap yang tidak berfungsi optimal sehingga minyak dan lemak tetap terbawa keluar dan menimbulkan pencemaran.
“Fungsi grease trap itu menahan
minyak dan lemak. Kalau tidak berfungsi, limbah tetap mencemari dan bisa
menimbulkan bau yang mengganggu masyarakat,” jelasnya.
- Proses ekualisasi
- Pengolahan biologis (aerob dan anaerob)
- Sedimentasi
- Hingga desinfeksi
Seluruh tahapan ini bertujuan
agar air limbah yang dihasilkan benar-benar aman dan memenuhi baku mutu sebelum
dibuang ke lingkungan.
Teknologi Tepat Guna Jadi Solusi
Dendels juga menekankan bahwa pembangunan IPAL tidak selalu harus menggunakan teknologi mahal. Menurutnya, pendekatan teknologi tepat guna dapat diterapkan selama tetap memenuhi fungsi dan standar yang telah ditetapkan dalam regulasi.
Ia menyebutkan bahwa media
filtrasi sederhana seperti ijuk, jaring, maupun bahan lokal lainnya dapat
dimanfaatkan sebagai alternatif dalam proses pengolahan limbah.
Selain itu, ia juga menegaskan bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi alasan untuk tidak membangun IPAL. Dengan desain yang tepat, sistem pengolahan limbah tetap dapat diterapkan secara efektif meskipun dalam ruang terbatas.
Penguatan Kolaborasi Lintas Sektor
Dalam kesempatan tersebut,
Zulkifli juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung
pengawasan dan pembinaan SPPG.
Dinas Kesehatan berperan dalam aspek higienitas dan kesehatan lingkungan, sementara Dinas Lingkungan Hidup bertanggung jawab dalam regulasi serta pengawasan lingkungan.
Komitmen terhadap Kualitas Program MBG
Melalui kegiatan podcast “Bincang Sehat” ini, diharapkan masyarakat dan para pengelola SPPG dapat lebih memahami bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan, tetapi juga oleh proses produksi yang aman dan ramah lingkungan.
BGN menegaskan komitmennya untuk
terus meningkatkan kualitas pelaksanaan program secara menyeluruh, baik dari
aspek gizi, keamanan pangan, maupun sanitasi lingkungan.








Komentar
Tuliskan Komentar Anda!