BGN Regional Gorontalo Manfaatkan Limbah Organik SPPG Menjadi Pakan Ternak dan Pupuk Kompos, Dukung Pertanian Berkelanjutan

BGN Regional Gorontalo Manfaatkan Limbah Organik SPPG Menjadi Pakan Ternak dan Pupuk Kompos, Dukung Pertanian Berkelanjutan

Kabupaten Gorontalo, 10 Juli 2026 – Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Gorontalo terus menghadirkan inovasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satunya melalui pemanfaatan limbah organik dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang diolah menjadi pakan ternak dan pupuk kompos. Kegiatan ini dilaksanakan bekerja sama dengan PT. Anugrah Zahra Sentosa sebagai upaya mengurangi limbah sekaligus memberikan manfaat bagi sektor pertanian dan peternakan.

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Koordinator Regional BGN Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, Pimpinan PT. Anugrah Zahra Sentosa, Kepala SPPG Pentadio Barat, Yayasan Kumala Vaza Grub, para petani, serta supplier bahan pangan di Desa Ulapato A, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo.

Melalui kerja sama ini, limbah organik yang berasal dari proses pengolahan bahan makanan di dapur SPPG, seperti sisa sayuran dan bahan organik lainnya, tidak lagi menjadi sampah. Limbah tersebut diolah menjadi pakan ternak dan pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan kembali oleh masyarakat. Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen BGN dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik sekaligus menciptakan nilai tambah bagi sektor pertanian.

Dalam kesempatan tersebut, Koordinator Regional BGN Provinsi Gorontalo memberikan sosialisasi kepada para petani mengenai besarnya peluang yang dihadirkan Program Makan Bergizi Gratis bagi sektor pertanian. Dengan meningkatnya kebutuhan bahan pangan untuk memenuhi menu bergizi setiap hari, hasil pertanian lokal memiliki peluang pasar yang semakin luas sehingga mampu meningkatkan pendapatan para petani.

Dampak positif tersebut dirasakan langsung oleh para petani. Salah seorang petani dan supplier ketimun di Desa Ulapato A, Kecamatan Telaga Biru, mengungkapkan bahwa sebelum adanya Program Makan Bergizi Gratis, harga ketimun dalam satu karung berkapasitas 50 kilogram, yang berisi sekitar 100 hingga 170 buah tergantung ukuran, dijual sekitar Rp75.000 per karung. Namun, sejak adanya Program MBG, permintaan ketimun meningkat sehingga harga jualnya kini dapat mencapai Rp100.000 hingga Rp200.000 per karung. Kondisi tersebut memberikan tambahan pendapatan bagi petani sekaligus mendorong mereka untuk meningkatkan produksi.

Sebagai simbol dimulainya pemanfaatan limbah organik SPPG secara berkelanjutan, Koordinator Regional BGN Provinsi Gorontalo menyerahkan secara simbolis pupuk kompos hasil olahan limbah organik SPPG kepada salah seorang petani. Penyerahan ini menjadi bukti bahwa limbah dari dapur SPPG dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat dan kembali mendukung produktivitas pertanian.

Koordinator Regional BGN Provinsi Gorontalo, Zulkifli Taluhumala, mengatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya bertujuan memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian daerah dan kelestarian lingkungan.

"Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya menghadirkan makanan bergizi bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi petani, peternak, UMKM, dan pelaku usaha lokal. Kini, limbah organik dari dapur SPPG juga dapat dimanfaatkan menjadi pakan ternak dan pupuk kompos sehingga tidak terbuang sia-sia. Kami berharap langkah ini dapat diterapkan di lebih banyak SPPG agar manfaat Program MBG semakin luas, mulai dari peningkatan gizi masyarakat, penguatan ekonomi lokal, hingga menjaga kebersihan lingkungan," ujar Zulkifli Taluhumala.

Melalui kolaborasi antara BGN Regional Gorontalo, PT. Anugrah Zahra Sentosa, pengelola SPPG, yayasan, petani, dan supplier, diharapkan pemanfaatan limbah organik SPPG dapat terus dikembangkan di berbagai wilayah. Langkah ini menjadi bukti bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong pembangunan yang berkelanjutan melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan ekonomi lokal, dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik.