Bone Bolango – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Dutohe Barat memberikan klarifikasi resmi terkait keterlambatan distribusi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi di SDN 6 Kabila, Kabupaten Bone Bolango, pada Rabu, 8 April 2026.
Keterlambatan tersebut terjadi pada penyaluran MBG porsi besar untuk siswa kelas 4, 5, dan 6, yang seharusnya didistribusikan lebih awal namun baru dapat disalurkan pada pukul 16.13 WITA. Kejadian ini sempat menjadi perhatian, sehingga pihak SPPG merasa perlu menyampaikan penjelasan secara terbuka dan komprehensif kepada masyarakat.
Kepala SPPG Dutohe Barat, Anggriyani Lukum, S.Pd, menjelaskan bahwa kendala utama yang menyebabkan keterlambatan berasal dari faktor suplai bahan baku, khususnya tempe sebagai salah satu komponen menu MBG pada hari tersebut. Berdasarkan perencanaan awal, bahan baku tempe dijadwalkan tiba sebelum waktu magrib. Namun dalam pelaksanaannya, pihak suplier secara sepihak mengubah waktu pengiriman menjadi pukul 21.00 WITA.
“Sejak awal kami telah melakukan konfirmasi kepada pihak suplier terkait jadwal pengiriman. Namun hingga waktu yang dijanjikan, bahan baku belum juga tiba. Kami terus melakukan komunikasi dan pengawasan, namun realisasi di lapangan tidak sesuai dengan komitmen awal,” ujar Anggriyani.
Bahan baku tempe tersebut baru tiba pada pukul 00.00 WITA. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh tim SPPG, diketahui bahwa kondisi tempe masih dalam proses fermentasi dan belum siap untuk diolah. Jika dipaksakan, hal ini berpotensi menurunkan kualitas makanan, bahkan dapat menyebabkan tempe hancur saat proses pengolahan.
Dengan mempertimbangkan standar kualitas dan keamanan pangan, Kepala SPPG Dutohe Barat mengambil keputusan tegas untuk menolak dan mengembalikan bahan baku tersebut kepada pihak suplier. Langkah ini diambil sebagai bentuk komitmen untuk menjaga mutu MBG yang diberikan kepada para siswa.
Selanjutnya, pada pukul 00.10 WITA, pihak SPPG segera berkoordinasi dengan PIC Yayasan Mentari Gizi Indonesia untuk melakukan pergantian suplier. Upaya ini dilakukan secara cepat guna memastikan ketersediaan bahan baku pengganti agar proses produksi tetap dapat berjalan.
Bahan baku dari suplier pengganti baru dapat diterima pada pukul 05.00 WITA. Tanpa menunda waktu, tim SPPG langsung melakukan proses pengolahan makanan hingga tahap pemorsian yang selesai sekitar pukul 09.00 WITA.
Dalam proses distribusi, SPPG menerapkan skala prioritas dengan mendahulukan penyaluran porsi kecil. Hal ini dilakukan dengan mempertimbangkan jam pulang siswa yang lebih awal, yaitu sekitar pukul 10.00 WITA. Setelah distribusi porsi kecil selesai, penyaluran porsi besar mulai dilakukan pada pukul 11.00 WITA.
Namun dalam pelaksanaannya, terdapat kendala lanjutan berupa keterbatasan bahan baku yang menyebabkan sebanyak 126 porsi besar di SDN 6 Kabila belum dapat langsung disalurkan. Menyikapi hal tersebut, pihak SPPG segera berkoordinasi dengan pihak sekolah serta menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan yang terjadi.
“Pihak sekolah menerima kondisi ini dengan baik. Bahkan para siswa masih tetap menunggu karena mereka ingin mendapatkan MBG,” jelas Anggriyani.
Sebagai langkah cepat, pada pukul 13.00 WITA pihak SPPG kembali melakukan pengadaan bahan baku tambahan untuk memenuhi kekurangan porsi. Proses pengolahan ulang dilakukan hingga selesai pada pukul 15.45 WITA. Setelah itu, makanan segera dipacking dan didistribusikan ke SDN 6 Kabila pada pukul 16.13 WITA.
Dalam proses distribusi tersebut, Kepala SPPG turut mendampingi langsung tim di lapangan serta menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada para guru dan siswa atas keterlambatan yang terjadi. Pendekatan ini dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap program MBG.
SPPG Dutohe Barat juga menegaskan bahwa kejadian ini menjadi bahan evaluasi menyeluruh, khususnya dalam pengawasan terhadap kinerja suplier dan manajemen rantai pasok bahan baku. Ke depan, koordinasi dan sistem kontrol akan diperketat guna meminimalisir potensi keterlambatan serupa.
Selain itu, SPPG juga akan meningkatkan standar verifikasi bahan baku sebelum diterima, serta memastikan adanya alternatif suplier yang siap digunakan dalam kondisi darurat.
Dari hasil evaluasi yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa keterlambatan distribusi MBG di SDN 6 Kabila disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu keterlambatan pengiriman bahan baku oleh suplier serta kondisi bahan baku yang tidak layak untuk diolah saat diterima. Meski demikian, pihak SPPG telah mengambil langkah cepat, terukur, dan bertanggung jawab dalam menyelesaikan permasalahan tersebut hingga distribusi dapat dituntaskan pada hari yang sama.
SPPG Dutohe Barat menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan memastikan program MBG dapat berjalan dengan baik, tepat waktu, serta tetap mengedepankan standar mutu dan keamanan pangan bagi seluruh penerima manfaat.









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!