Kota
Gorontalo — Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Gorontalo terus memperkuat
pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui penguatan sinergi lintas
sektor bersama Pemerintah Provinsi Gorontalo. Hal ini tercermin dalam kegiatan
konsolidasi dan evaluasi yang berlangsung selama dua hari, 21–22 April 2026, di
Ballroom Hotel Grand Q, Kota Gorontalo.
Kegiatan
yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Gorontalo melalui Dinas Kesehatan ini
dibuka langsung oleh Wakil Gubernur Gorontalo selaku Ketua Satgas MBG. Dalam
arahannya, Wakil Gubernur menekankan pentingnya perbaikan berkelanjutan dalam
pelaksanaan MBG, mulai dari peningkatan kualitas menu, ketepatan porsi sesuai
kebutuhan penerima manfaat, hingga optimalisasi distribusi.
“Program
MBG harus benar-benar kita perbaiki, baik dari sisi variasi menu maupun
ketepatan takaran sesuai kebutuhan penerima manfaat,” tegasnya.
Lebih
lanjut, ia menyoroti masih tingginya angka kematian ibu dan anak di Gorontalo
yang mencapai 17 kasus sepanjang Januari hingga April 2026. Kondisi ini menjadi
peringatan serius bahwa intervensi gizi, khususnya pada kelompok rentan seperti
ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (kelompok B3), harus diperkuat secara
menyeluruh dan terukur.
Dalam
forum tersebut, BGN Regional Gorontalo menegaskan bahwa keberhasilan Program
MBG sangat ditentukan oleh peran strategis tenaga ahli gizi, baik yang bertugas
di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) maupun di puskesmas. Ahli gizi
menjadi garda terdepan dalam memastikan kualitas menu, keamanan pangan, serta
kecukupan gizi bagi seluruh penerima manfaat.
Pada
hari pertama, pembahasan difokuskan pada praktik pendistribusian MBG dan
strategi penguatan operasional SPPG. Ditekankan bahwa seluruh proses, mulai
dari pengolahan hingga distribusi makanan, wajib memenuhi standar keamanan
pangan, termasuk kepemilikan sertifikasi laik higiene sanitasi (SLHS) dan
penggunaan air yang terfilter guna mencegah risiko keracunan makanan.
Distribusi
MBG untuk kelompok B3 dilakukan melalui mekanisme terjadwal dengan melibatkan
kader dan posyandu, sementara untuk peserta didik dilaksanakan pada hari
sekolah. Namun demikian, sejumlah kendala masih ditemukan di lapangan, seperti
miskomunikasi dengan pihak sekolah, hambatan koordinasi dengan kader, serta
rendahnya antusiasme penerima manfaat terhadap variasi menu.
Menanggapi
hal tersebut, BGN mendorong transparansi dalam pengelolaan anggaran,
keterbukaan standar menu, serta peningkatan variasi pangan berbasis potensi
lokal. Edukasi gizi kepada masyarakat juga menjadi kunci untuk mengubah
persepsi terhadap bahan pangan lokal seperti umbi-umbian yang masih sering
dianggap kurang bergizi.
Selain
itu, BGN menegaskan bahwa SPPG yang tidak mematuhi standar operasional akan
dikenakan sanksi tegas berupa penghentian sementara operasional (suspensi),
sebagai bentuk komitmen menjaga kualitas program.
Memasuki
hari kedua, pembahasan difokuskan pada penguatan program perbaikan gizi dalam
periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang merupakan fase krusial dalam
mencegah stunting. Sinergi antara SPPG dan puskesmas menjadi kunci utama dalam
memastikan intervensi gizi berjalan efektif dan tepat sasaran.
Puskesmas
berperan dalam pemantauan status gizi serta edukasi kesehatan masyarakat,
sementara SPPG bertanggung jawab dalam penyediaan makanan bergizi sesuai
standar. Kolaborasi keduanya diperkuat melalui integrasi data sasaran berbasis
by name by address, serta pelaksanaan monitoring bersama terhadap pertumbuhan
ibu dan anak.
Meski
demikian, masih ditemukan sejumlah tantangan, seperti ketidaksesuaian data
antara SPPG dan puskesmas serta belum optimalnya komunikasi antar pihak. Untuk
itu, disepakati sejumlah langkah tindak lanjut, antara lain sinkronisasi data
terpadu, penjadwalan koordinasi rutin bulanan, serta peningkatan edukasi gizi
melalui kader dan posyandu.
BGN
juga mendorong penguatan kelembagaan SPPG, termasuk usulan penambahan tenaga
kesehatan lingkungan (kesling) guna mendukung aspek higienitas dan sanitasi
yang selama ini masih banyak ditangani oleh ahli gizi.
Melalui
kegiatan ini, BGN Regional Gorontalo menegaskan komitmennya untuk terus
meningkatkan kualitas pelaksanaan Program MBG dengan menempatkan ahli gizi
sebagai aktor kunci. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah,
puskesmas, SPPG, serta seluruh pemangku kepentingan, diharapkan Program MBG
dapat berjalan optimal dalam meningkatkan status gizi masyarakat sekaligus
menekan angka stunting dan permasalahan gizi di Provinsi Gorontalo.










Komentar
Tuliskan Komentar Anda!