Provinsi
Gorontalo, 20 April 2026 — Badan Gizi Nasional (BGN) bersama mitra kerja Komisi
IX DPR RI melaksanakan kegiatan sosialisasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Tahun 2026 di Provinsi Gorontalo. Kegiatan ini digelar di Aula Ballroom Grand Q
Hotel Gorontalo yang dihadiri oleh Koordinator Regional BGN Provinsi Gorontalo,
Zulkifli Taluhumala, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI dari Fraksi PKB, Dr. Hj.
Nihayatul Wafiroh, M.A., serta turut dihadiri oleh Anggota DPRD Provinsi dan
DPRD Kabupaten/Kota se-Provinsi Gorontalo, dan ratusan peserta kegiatan dari
berbagai unsur masyarakat.
Dalam
kesempatan tersebut, Zulkifli Taluhumala memaparkan dampak nyata program MBG di
Provinsi Gorontalo. Hingga saat ini, program tersebut telah menyerap kurang
lebih 4.500 tenaga kerja, serta melibatkan sekitar 270 pelaku UMKM sebagai
mitra penyedia bahan pangan.
Dari
sisi anggaran, total penyerapan mencapai sekitar Rp470 miliar, dengan
distribusi 80% untuk sektor pangan lokal, 15% untuk operasional dapur dan gaji
tenaga kerja, serta 5% untuk mitra atau yayasan sebagai investor program. “Ini
menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi
juga memperkuat ekonomi daerah dan membuka lapangan kerja,” jelas Zulkifli.
Ia
juga mendorong masyarakat untuk aktif mengambil peran, baik melalui usaha UMKM
maupun sektor pertanian. Menurutnya, peluang ekonomi dari program MBG sangat
besar, khususnya dalam penyediaan bahan pangan lokal.
Menanggapi
berbagai polemik yang berkembang, Zulkifli menegaskan bahwa BGN terus melakukan
evaluasi secara berkala. Ia juga menepis anggapan adanya unsur kesengajaan
dalam menurunkan kualitas makanan. “Tenaga kerja di dapur MBG merupakan
masyarakat sekitar, bahkan anak-anak mereka juga menjadi penerima manfaat.
Tidak masuk akal jika ada unsur kesengajaan yang merugikan,” tegasnya.
Dalam
sesi tanya jawab, peserta kegiatan menyoroti dua isu utama, yakni penyebaran
dapur MBG yang belum merata dan persoalan makanan yang dianggap mubazir.
Menanggapi hal tersebut, Zulkifli menjelaskan bahwa pembangunan dapur MBG
dilakukan secara bertahap, menyesuaikan kesiapan infrastruktur, ketersediaan
mitra, serta pemenuhan standar operasional.
“Ketidakmerataan
ini bukan berarti ada daerah yang diabaikan. Semua wilayah tetap dalam proses
persiapan dan pendampingan agar dapat segera terlayani,” ungkapnya.
Sementara
itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Dr. Hj. Nihayatul Wafiroh, M.A., menegaskan
pentingnya peran DPR RI dalam memastikan program MBG berjalan optimal melalui
fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Ia menekankan bahwa pembangunan
kualitas sumber daya manusia sangat bergantung pada pemenuhan gizi sejak dini.
“Program
MBG bukan hanya soal pemberian makanan, tetapi investasi jangka panjang bagi
kualitas generasi bangsa. Masa pertumbuhan anak merupakan fase krusial yang
menentukan perkembangan fisik maupun kognitif di masa depan,” ujarnya.
Menanggapi
pertanyaan peserta terkait persoalan mubazir, ia menjelaskan bahwa tantangan
tersebut lebih kepada pola konsumsi masyarakat. “Banyak anak-anak terbiasa
dengan makanan instan atau yang menggunakan penyedap rasa, sementara menu MBG
mengutamakan nilai gizi tanpa bahan tambahan tersebut. Ini menjadi tugas kita
bersama untuk memberikan edukasi agar anak-anak terbiasa mengonsumsi makanan
bergizi,” jelasnya.
Ia
juga menegaskan bahwa sebagaimana disampaikan oleh Koordinator Regional BGN,
program MBG telah memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
daerah dan penyerapan tenaga kerja.
Melalui
kegiatan sosialisasi ini, diharapkan pemahaman masyarakat terhadap Program MBG
semakin meningkat, sekaligus mendorong partisipasi aktif dalam mendukung
keberhasilan program, baik sebagai penerima manfaat maupun sebagai bagian dari
ekosistem penyedia pangan.









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!